Home Berita Remaja dan Keluarga
Remaja dan Keluarga
Senin, 06 September 2010 00:00

Suatu hari di sebuah Taman Kanak-Kanak. Seorang anak menangis. Hari itu adalah hari pertama ia pergi ke sekolah. Dia menangis, karena inilah pertama kalinya ia terpisah 'lama' dengan ibunya. Proses adaptasi dengan lingkungan barunya memang butuh waktu. Apalagi untuk seorang anak yang tidak terbiasa terpisah dengan keluarga, terutama sang ibu.

Seiring dengan waktu, anak tersebutpun akan tumbuh besar menjadi seorang muda atau remaja. Akhir masa anak-anak (Late childhood) berlangsung pada usia 6 tahun hingga tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Pada masa awal dan masa akhir anak-anak ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak.

altKetika seseorang memasuki usia akhir masa anak-anak maka biasanya para orang tua mulai memberikan waktunya yang lebih sedikit. Menurut suatu penelitian tentang banyaknya waktu yang digunakan orangtua bersama anak, maka waktu yang dihabiskan oleh orangtua untuk mengasuh, mengajar, berbicara dan bermain dengan anak-anak yang telah memasuki masa akhir kurang dari setengah waktu yang dihabiskan ketika anak masih lebih kecil (Hill & Stafford, 1980). Pada umumnya anak-anak pada masa akhir, lebih diarahkan dalam mengerjakan tugas-tugas sederhana secara sendiri. Misalnya pekerjaan-pekerjaan membersihkan kamar, membersihkan dapur, dll. Selain dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti itu menyebabkan interaksi dengan orangtua menjadi berkurang.

Perubahan-perubahan pada kehidupan orangtua, contohnya kedua orangtua yang bekerja, perceraian, single parent, sangat mempengaruhi hakekat interaksi orangtua dengan anak pada masa akhir anak-anak. Ketika tuntutan pengasuhan mulai berkurang biasanya para ibu akan lebih memilih kembali karir atau memulai suatu kegiatan baru. Hal ini menyebabkan waktu yang harusnya lebih diberikan untuk membimbing dan mengasuh anak malah digunakan untuk kegiatan pengembangan karir khususnya bagi para ibu.

Sebaliknya akhir masa anak-anak sering disebut dengan ”masa berkelompok”. Usia remaja mulai ditandai dengan minat terhadap aktivitas bersama teman-teman. Setelah ikut kegiatan, keinginan untuk diterima di kelompoknyapun meningkat. Biasanya pada masa ini, remaja sudah tidak begitu berminat lagi untuk menghabiskan waktunya untuk urusan keluarga. Baik urusan membantu orangtua berberes rumah, sampai sekedar berjalan-jalan dengan ayah, ibu atau adiknya sendiri. Bahkan beberapa dari mereka sudah merasa risih kalau masih dijemput ke sekolah oleh ayahnya. Takut dibilang 'anak papi' atau 'anak mami'. Belum lagi padatnya kegiatan yang diikuti di luar rumah, menyebabkan remaja seperti tidak punya waktu lagi untuk keluarganya. Seringkali, disinilah muncul konflik antara remaja dan keluarga, terutama orangtuanya. Apakah kamu sebagai remaja pernah mengalaminya?

altDaru Firmanjaya (19), seorang mahasiswa angkatan 2009 Universitas Atma Jaya Yogyakarta, punya banyak kegiatan di luar rumah. Sejak SMA, ia aktif mengikuti ekstra kurikuler. Selain itu, ia mempunyai kegiatan membuat sablon kaos. Otomatis, waktunya di rumah sangat sedikit. Keadaan ini menyebabkan ayahnya sering protes. Apalagi Daru adalah anak laki-laki satu-satunya. ”Ayah selalu bilang, waktu saya lebih banyak untuk teman-teman dan kegiatan di luar rumah. Padahal menurutnya, saya harus lebih bertanggungjawab pada keluarga. Harus bisa membantu ayah saya, terutama karena ayah adalah seorang wiraswasta”, cerita Daru.

altLain lagi cerita Rina Amalia (20), mahasiswi di Unsil Tasikmalaya. Ia cukup aktif di kegiatan kampus dan beberapa organisasi di luar kampus. Karena Rina adalah anak perempuan satu-satunya di rumah, maka orangtuanya sering mengeluh karena Rina jarang ada di rumah. Alasannya, ”Orang tua di Tasik masih berpikir kalau pulang malam itu nggak baik. Faktanya akses transportasi umum untuk malam hari terbatas banget, susah untuk pulang kecuali ada kendaraan pribadi”, ujar Rina.

altDilla Arta (16 tahun), pelajar SMAN 8 Yogyakarta punya cerita lain. Dia hanya punya waktu 2-3 jam sehari untuk berkumpul dengan keluarga. Kalaupun berkumpul, mereka jarang bercerita banyak. Otomatis, iapun tidak tahu apakah orangtuanya suka mengeluh atau tidak pada kesibukannya di luar rumah.

TEMPAT TINGGAL YANG BERJAUHAN

Cerita para remaja di atas adalah cerita mereka yang masih tinggal dengan orangtuanya. Lalu, bagaimana cerita anak muda yang tinggal di kota atau tempat yang berbeda dengan orangtua ataupun keluarganya? Seberapa sering mereka bertemu?

Ran
altty Yustina Dewi (24 tahun), punya kesibukan di dunia perfilman. Saat ini ia hanya tinggal dengan ibunya di Jakarta, serta jarang ada di rumah karena sering shooting di luar kota. ”Aku jarang ketemuan dengan keluarga. Terakhir komunikasi minggu lalu, lewat telphone”, ujar Ranti.


altSuteja (18 tahun),
dari Cirebon juga bercerita bahwa ia sekarang tinggal di Jakarta dengan kakak adik dan orangtuanya. Namun ada 4 saudara kandungnya yang lain yang tidak tinggal serumah dengan mereka. ”Aku nggak tahu, berapa jam dalam sehari menghabiskan waktu dengan keluarga. Karena jujur saja, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman. Jangankan dengan yang serumah, dengan yang tidak serumah aku jarang bertemu dan komunikasi”, cerita Teja. ”Tapi aku paling dekat dengan ibu. Jadi, walaupun jarang di rumah, aku selalu cerita dengan beliau”.

 

SUDAH CUKUP BELUM?

 

Membaca cerita teman-teman di atas, mungkin kita jadi mengerti, mengapa banyak orangtua yang anaknya masih remaja sering mengeluh karena keberadaan mereka yang jarang di rumah. Beberapa orangtua mengharapkan anaknya bisa membantu pekerjaan rumah, bisa mengantar  saudara-saudaranya yang lain, atau hanya sekedar berkumpul bersama keluarga. Beberapa studi yang dilakukan peneliti mengatakan, bahwa kunci remaja untuk sukses adalah berkat dukungan keluarganya. Bahkan dikatakan, kenakalan remaja itu erat kaitannya dengan hubungan remaja tersebut dengan keluarganya. Kalau melihat dari remajanya sendiri, apakah mereka merasa waktunya dengan keluarga sudah cukup? Atau masih kurang?

altGratsia Kancanamaya (16 tahun), pelajar SMAN 8 Yogyakarta mengatakan waktunya dengan keluarganya masih kurang. ”Soalnya aku kadang sampai rumah sudah sore,  badan lelah, jadi suka marah-marah sendiri dan nggak pernah bantu-bantu membersihkan rumah. Padahal aku senang sekali kalau kita berkumpul dan makan malam bersama.  Soalnya rasanya tuh enak aja, bisa berdoa bersama, lalu selama makan kita suka cerita-cerita apa saja. Rasanya senang sekali”.

altLain lagi cerita Elisabeth Kartikasari  (23 tahun). ”Sebagai anak terakhir, aku merindukan kumpul-kumpul sama kakak-kakakku. Tapi karena mereka sudah kerja dan menikah, intensitas bertemu otomatis berkurang.  Sekarang jadi merasa seperti anak tunggal. Tapi hikmahnya aku jadi lebih dekat dengan orangtuaku. Walaupun rasanya kurang waktunya bertemu kakak-kakak, tapi pertemuan dengan orang tua jadi lebih sering”.

Karena keluarga yang kadang sering berdebat dan ”perang dingin”, Ranty merasa waktunya dengan keluarga sudah cukup. ”Kalau ketemu keseringan malah seringnya berantem. Ada saja yang diperdebatkan. Jadi mendingan seperti sekarang. Asalkan orangtua terutama ibu tahu keberadaanku dimana, rasanya sudah cukup”, ujar Ranti.

”Karena aku senang memasak, rasanya waktuku dengan keluargaku kurang deh... Rasanya ingin memasak lebih banyak lagi untuk mereka, terutama ibuku”, kata Teja.

altYanti (19 tahun), mahasiswa UNIKOM Yogyakarta mungkin punya cerita berbeda. Ia tidak punya banyak kegiatan di luar rumah. Otomatis waktunya banyak dihabiskan di rumah. Ngobrol dengan keluarga, nonton TV bareng, sampai ikut membantu menjaga warung keluarganya. ”Jujur ,kadang-kadang aku bosan sendiri dan  jenuh dengan  kegiatanku yang itu-itu saja. Sampai-sampai harus cari-cari alasan buat pergi”. Daru juga bercerita bahwa waktunya dengan keluarga sudah cukup. Karena saat ini ia sedang asik dengan teman-teman dan beraktivitas, seperti berkarya membuat film dan usaha sablon kaos.

 

KUNCINYA KOMUNIKASI

Komunikasi adalah fondasi sebuah keluarga. Remaja ingin dimengerti  oleh orangtua, tapi sebaliknya apakah remaja juga mau mengerti orangtuanya? Kurangnya komunikasi, sering kali menyebabkan kesimpangsiuran untuk memahami tujuan orang tua. Seorang ayah berkata dengan tegas kepada anak remaja kesayangannya. "Mulai hari ini, kamu tidak boleh bergaul lagi dengan si A". Mendengar perintah tersebut, anak remaja tadi langsung marah". Dia berkata : "Ayah terlalu jahat. Selalu memaksakan kemauan sendiri, karena itu mulai hari ini aku juga tidak mau diatur lagi. Aku sudah besar".

Mengapakah remaja itu marah? Ternyata, masalahnya terletak pada cara ayahnya menyampaikan perintah.  Lain ceritanya kalau ayah tersebut berkata: "Mulai hari ini kamu tidak boleh bergaul dengan si A itu, karena dia seorang pemakai narkoba, nanti kamu ikut-ikutan". Apabila perintah itu disertai argumentasi, pasti si anak tidak marah. Di sini letak masalahnya.

Remaja dan keluarga terutama orangtua, bisa menjadi sahabat yang baik. Apa kuncinya? Dibutuhkan saling  pengertian dan kesediaan untuk memahami masing-masing pihak secara utuh. Mulai sekarang, bukan hanya orangtua yang harus belajar memahami anak remajanya, tapi juga bagaimana remaja memberikan pengertian dan membuka komunikasi dengan orangtuanya. Jangan malas untuk menceritakan apa yang kamu lakukan di luar rumah. Kalau perlu, bawa hasil kegiatanmu itu ke rumah. Berikan pengertian betapa kamu mencintai kegiatanmu dan hal itu dapat mengasah kreativitasmu.

Keberadaanmu sebagai remaja yang aktif dengan segudang kegiatan bersama keluarga mungkin mulai bisa dipikirkan lagi. Tidak perlu kuantitas tapi kualitasnya. Entah itu membantu membersihkan ruang makan, menemani adik belajar, menjaga warung, atau hanya menonton TV bersama di malam hari. Mungkin kamu sebagai remaja tidak lagi harus mencari keberadaan orangtuamu seperti saat kamu di Taman Kanak-Kanak, tapi ingatlah bahwa apapun yang akan terjadi di hidup kamu kelak, keluargalah yang akan menjadi tempat pertama kamu datang.

Kalau kamu ingin dimengerti, bersikaplah dewasa dengan caramu dan buktikan bahwa apa yang kamu lakukan di luar rumah adalah sesuatu yang berguna. Paling tidak untuk diri kamu sendiri dan lingkungan sekitarmu. Dan tentu saja nantinya untuk keluargamu.

Foto: dokumentasi IYMC Kampung Halaman & pribadi narasumber
Berikan komentarmu untuk tulisan ini di kolom "Mari Berbincang" di halaman depan website ini. *Jangan lupa isi jumlah dari angka yang ada pada kolom Captcha, lalu tekan Send.