|
Di setiap Lab Komunitas, Kampung Halaman telah berkegiatan selama 2 tahun untuk mendukung dan memfasilitasi kelompok anak muda untuk memperkuat peran mereka di komunitas. Kegiatan kami dengan kelompok anak muda di komunitas adalah:
- Penelitian dan pembuatan video komunitas
- Pemutaran dan Diskusi Video komunitas
- Media Centre Komunitas (Sanggar)
- Bidang Usaha Kreatif Komunitas
- Pelatihan untuk pemimpin muda
Pada Lab Komunitas, kami memfasilitasi komunitas-komunitas yang berbeda, sejak tahun 2006. Komunitas itu adalah:
1. Taruna Reka di Dusun Karangploso, Piyungan-Bantul, Yogyakarta
Taruna Reka adalah organisasi Karang Taruna dusun Karang Ploso, sebuah dusun yang sebagian besar warganya bekerja sebagai petani namun lambat laun generasi mudanya tidak lagi berhubungan dengan dunia pertanian. Dusun ini termasuk daerah yang terkena dampak gempa yang melanda Yogyakarta di tahun 2006. Taruna Reka mengambil peran yang cukup signifikan pada tahap-tahap tanggap darurat gempa sebagai pencari dan penyalur bantuan.
Kegiatan 2006-2008:
Kegiatan perkenalan antara Kampung Halaman dan Taruna Reka (organisasi Karang Tarunan di Dudun Karang Ploso) dilakukan dengan cara mengajak anak muda yang tergabung di Taruna Reka dan anak-anak usia SD dan SMP asal dusun Karang Ploso untuk membuat video mengenai kondisi Karang Ploso pasca gempa dan pengalaman mereka seputar gempa. Perkenalan dengan cara langsung melakukan kegiatan pembuatan video komunitas sengaja kami lakukan agar mereka bisa memahami secara langsung bagaimana proses pembuatan video komunitas secara partisipatoris (sampai ke pemutarannya) dan apa tujuannnya. Dengan demikian mereka bisa menilai apakah kegiatan seperti ini bermanfaat dan menjawab kebutuhan mereka.
Dari proses perkenalan ini dihasilkan 3 video: ‘
- Alon-alon Waton kelakon
- Rumah Gedhek Tempat Tinggal Kami
- Bunga-bungaku yang Indah
Proses penayangan video-video tersebut kami jadikan sebagai ajang untuk memperkenalkan diri, menjelaskan apa yang akan kami lakukan bersama anak muda Karang Ploso ke depan, dan meminta ijin kepada seluruh warga untuk melakukan kegiatan tersebut, selain, tentu saja, untuk mendapatkan usulan dan masukan dari warga berhubungan dengan video-video yang sudah kita buat dan rencana kegiatan kami ke depan.
- Pembuatan Video Komunitas
Pembuatan video komunitas dimaksudkan untuk mengenali kondisi anak muda Karang Ploso, komunitas, dan lingkungan (potensi dan persoalan) tempat anak muda Karang Ploso tersebut hidup. Anak muda Karang Ploso dikenalkan dengan teknik dasar kamera secara sederhana dan partisipatoris untuk menghindari kerumitan istilah-isltilah teknis yang mungkin akan menghambat penguasaan mereka terhadap kamera, karena yang lebih dipentingkan adalah kemampuan anak-anak muda ini menggunakan karema sebagai ‘alat’ untuk mempertajam mata mereka untuk mengenali kondisi diri dan sekitarnya. Melalui kegiatan ini dihasilkan 1 video dokumentasi, berjudul: ‘Sawah, Kandang, dan Sungai’ yang kemudian dikembangkan menjadi 3 video yang lebih panjang dan mendalam, yaitu: “Andai Ku Tahu”, “Tak Kandhake Pak Dukuh Lho”, “Who are we?”, “Bakat Terpendam Aku”, dan “Rindu Kami Padamu Rumahku”.
- Penayangan dan Perancangan Aksi
Setelah video-video tersebut selesai dibuat, kegiatan berikutnya adalah penayangan dan diskusi untuk mencari solusi dan merancang aksi/kegiatan sebagai respon terhadap temuan-temuan dari video-video tersebut. Rancangn aksi/kegiatan yang muncul terutama merespon persoalan ketersedian air untuk pertanian (seperti yang diungkap dalam video “Sawah, Kandang, dan Sungai”), keegganan anak muda untuk bekerja di sawah dan ketersedian lapangan kerja buat mereka (sebagai respon terhadap Video; “Andai Ku tahu”), pengelolaan lingkungan (sebagai respon bagi video; “Tak Kandhake Pak Dukuh Lho”), pengakuan dan peningkatan peran perempuan dalam organisasi (Seperti yang diungkap dalam video: ‘Who are we?’).
Selama proses berkegiatan di Karang Ploso muncul kebutuhan dari anak-anak muda Karang Ploso akan tempat untuk berkegiatan dan menyimpan alat-alat kerja, seperti kamera dan komputer editing. Maka atas inisiatif anak-anak muda yang tergabung dalam Tarunan Reka ini, digalanglah kekuatan seluruh warga Karang Ploso untuk membangun sanggar kegiatan. Warga mengijinkan tanah kas Dusun sebagai lahan tempat sanggar itu didirikan. Hampir seluruh warga Karang Ploso terlibat dalam pembangunan sanggar ini, terutama tenaga, konsumsi, dan beberapa material penting, Kampung Halaman mencukupi sisanya. Proses pembuatan sanggar ini didokumentasikan kedalam sebuah video.
- Peringatan Gempa/Pameran Foto dan Pemutaran Video
Untuk memperingati 1 tahun gempa, Taruna Reka membuat kegiatan pameran foto gempa dan pemutaran video yang pernah mereka buat Acara ini dimaksudkan agar warga Karang Ploso bisa merefleksikan apa yang telah mereka alami , lalui, lakukan, dan kemana mereka akan bergerak.
- Perancangan Exit-Strategi Pelatihan Fasilitator Lokal
Sebagai bagain dari proses exit-strategy (atau berakhirnya prose’s pendampingan langsung selama satu tahun oleh Kampung Halaman) diadakan perancangan exit strategi dengan difasilitasi oleh Hasantoha Adnan. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan pelatihan fasilitator lokal oleh Toto Rahardjo. Fasilitator lokal yang terdiri dari anak-anak muda anggota Taruna Reka yang selama ini aktif berkegiatan diharapkan bisa melanjutkan proses dan kegiatan yang telah berjalan.
2. SOCA Tasik Youth Media Center, Tasikmalaya, Jawa Barat
SOCA, Tasik Youth Media Centre adalah media centre yang terbentuk sebagai salah satu hasil dari proses pendampingan Kampung Halaman di Kota Tasikmalaya. Soca diharapkan menjadi tempat dan ruang bagi anak-anak muda dari berbagai latar belakang di Kota Tasikmalaya untuk bertemu dan memproduksi media untuk mengenali kondisi diri dan sekitarnya.
Foto Baceo (atau Foto Bicara) adalah kegiatan pembuatan dan pameran foto mengenai kondisi Kota Tasikmalaya melalui kacamata remaja atau anak muda Tasikmalaya. Foto yang dihasilkan merupakan pemetaan awal tentang potensi dan persoalan yang dihadapi oleh anak muda di Tasikmalaya yang kemudian akan diperdalam kemudian. Kegiatan ini diikuti oleh 252 anak muda yang berasal dari berbagai latarbelakang. Dari sekitar 400 foto yang dihasilkan ditemukan beberapa isu/persoalan pokok yang diahadapi anak-anak muda di Tasimalaya, yaitu: Kurangnya kesempatan kerja, Kurangnya sumber dan fasilitas pendidikan, Semakin mengjilangnya ruang publik bagai anak muda dan melebarnya ‘jarak’ antar anak muda yang berbeda latar belakang etnis dan agama, dan persoalan kerusakan lingkungan. Dari 400 foto yang dihasilkan hanya 80 foto yang dipamerkan yang dianggap mewakili isu-isu tersebut.
- Strategic Planing dan Pembentukan Tasik Youth Media Centre
Setelah prose’s pemetaan persoalan melalui pembuatan dan pameran Foto Baceo, anak muda yang terlibat dalam kegiatan Foto Baceo berkumpul untuk menyusun rencana strtaegis ke depan dan membentuk organisasi yang bisa menjadi wadah untuk menjalankan rencana strategis tersebut, maka terbentuklah: "Soca: Tasik Youth Media Centre".
Workhsop video ini ditujukan untuk lebih menajamkan isu/persoalan yang teridentifikasi lewat foto yang dihasilkan dalam kegiatan Foto Baceo. Video yang dihasilkan melalui workshop ini adalah, yaitu: Penyiar Radio Tuh, Aku Cinta Kampungku, Habis Berapa Bos, Tak Ada Minyak Kayupun Jadi, Toilet Kampusku, Nyito : Aku Bicara Melalui Nyanyianku, Kecil sih…Tapia pa Kita Peduli. Video-video ini kemudain diputar diberbagai komunitas termasuk komunitas pesantren, kampung, sekolah, dan universitas.
- Pengembangan Bisnis di Soca; Tasik Youth Media Centre
Untuk menjamin keberlanjutan Soca; Tasik Youth Media Centre, setelah kampung halaman tidak lagi mendampingi Soca secara langsung maka dirintislah bisnis berbasis media dan kreatifitas. Salah satu bisnis yang coba dikembangkan adalah bisnis pembuatan video pesta perkawinan, video profil, video klip musik, video perayaan ulang tahun. Mereka yang terlibat dalam bisnis ini mendapatkan penghasilan dan sebagian keuntungan tersebut dimasukan ke kas organisasi.
- Workshop Video Puisi "Aku, Video, dan Puisi"
Workshop ini bertujuan untuk mengasah kreatifitas, daya artistic , dan team work, anak muda yang tergabung di Soca; Tasik Youth Media Centre. Melalui Workshop ini terlahir 5 Video.
3. Mitra Aksi Komunitas untuk Perubahan Sosial, Jambi, Sumatera
4. Komunitas Remaja dan Seni Tradisi : Tembi-Bantul, Ponorogo, Bali, Indramayu
5. Remaja Kepulauan Riau
Anak Muda Di Perbatasan
Setelah bekerja dengan anak-anak muda di wilayah transisi di pedesaan (Karang Ploso, Piyungan, Bantul), kota kecil (Tasikmalaya), wilayah kota yang berbatasan dengan wilayah konservasi dan perkebunan (Jambi), wilayah tempat naik dan turunnya seni tradisi (Yogyakarta, Bali, Ponorogo, Indramayu), Kampung Halaman merasa perlu bekerja di tempat yang lebih menantang dengan cakupan persoalan yang lebih luas. Kami ingin bekerja di wilayah transisi dengan ruang lingkup antar negara tetangga, atau regional. Maka kami mulai menerawang ke wilayah perbatasan. Kepulauan Riau yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura menjadi piliihan kami, salah satunya karena wilayah tersebut sedikit banyak sudah cukup kami kenal sebelumnya, seturut dengan salah satu fasilitator Kampung Halaman pernah melakukan riset di wilayah ini.
Kami tertarik dengan wilayah perbatasan karena ambiguitas-nya. Di satu sisi wilayah ini adalah pintu gerbang peredaran dan mobilitas manusia, barang, dan tentu saja ide dan citra secara lintas negara, namun di sisi lain seringkali dipandang, terutama oleh pemerntah, sebagai ‘halaman belakang’, sehingga kurang diperhatikan. Maka bukan kebetulan apabila wilayah ini sering disebut sebagai ‘wilayah terisolir’ atau ‘wilayah tertinggal’ (lihat GBHN 1999-2004).
Bagaimana anak muda hidup di antara mobilitas lintas batas negara dan hambatan-hambatan yang tidak memungkinkan proses mobilitas itu terjadi. Apakah mereka hanya bisa menjadi ‘korban’ atau justru menjadi ‘aktor’ yang perlu diperhitungkan? Atau ke dua-duanya?
|