Hari beranjak gelap.

Studio Jogja Audio School lantai 1 justru makin ramai.

Proses rekaman musik kolaborasi laBunyi (Baca: Ada Laboratorium Bunyi Untuk Musisi Muda di Jogja) yang melibatkan musisi; Hasby, Band Opatua dan mentor; Momo Captain Jack, Farid Stevy dan Grayce Soba masih berlangsung riuh bergelora.

Diawali dengan membuat rekaman bunyi-bunyian secara bersama (Baca:  laBunyi: Hentakkan Kaki, Tepuk Tangga, Pukul Tembok, Jadi Musik!), diskusi merefleksikan kegelisahan hingga menulis lirik, dilanjutkan proses rekaman yang unik.

Proses rekaman yang disepakati bersama menurut Soba, salah satu mentor, adalah dilakukan secara individual tanpa alat musik biasa.

“Vokalis akan direkam satu per satu. Sedangkan satu-satunya alat musik yang digunakan adalah anggota tubuh yang tadi sudah menghasilkan bunyi lewat kontak benda-benda sekitar”, jelasnya.

Momo Captain Jack memulai proses rekaman dengan menyanyikan lirik yang sudah ia buat. “Saya suka petualangan, rasa ingin tahu saya besar sehingga sering mempertanyakan banyak hal. Itulah saya” jelasnya tentang lirik yang dibuatnya.

Hasby merespon lirik yang dibuat Momo dengan penegasan bahwa setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri.

Sementara Opatua band dengan permainan kata mereka yang khas ingin mengatakan bahwa mereka senang menjadi pribadi yang bebas.

Setelah mendengarkan semua lirik yang dibuat masing-masing vokalis, giliran terakhir Farid Stevy membuat lirik dan merekamnya.

Dalam lirik yang dibuatnya, Farid ingin menegaskan bahwa semua karya seni dan tulisan-tulisan yang dihasilkan dalam sejarah manusia sejatinya merayakan perbedaan dan keragaman.

Musik kolaborasi laBunyi yang hingga hari ini belum disepakati judulnya ini selanjutnya akan masuk tahapan mixing dan akan diluncurkan bersama dua lagu karya masing-masing  Opatua dan Hasby pada awal Januari 2016. Wait for it! 

venenatis elit. adipiscing lectus nunc mattis Lorem